(Hikmah)

Dalam sejarah umat-umat terdahulu, tercatat satu nama yang dikenal bukan karena kekuatan imannya, melainkan karena kejatuhannya dari kemuliaan menuju kehinaan. Sosok tersebut adalah Bal’am bin Ba’ura, seorang ulama yang hidup di zaman Nabi Musa a.s. Ia pernah meraih posisi yang sangat tinggi dan terkenal sebagai orang yang doanya senantiasa dikabulkan oleh Allah.
Namun pada akhirnya, seluruh anugerah dan pengetahuan yang dimilikinya tak lagi berarti. Ia tergelincir ke dalam jurang kesesatan akibat menuruti hawa nafsu.
ia tergoda dengan harta, kedudukan, dan kekuasaan, oleh bujuk rayu para pembesar kaumnya untuk berdoa menghancurkan Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil .
Singkat cerita, Bal’am mendaki bukit dengan tujuan untuk mendoakan kehancuran Nabi Musa dan Bani Israil. Namun, anehnya, setiap kali ia mencoba melaknat Musa, kata-katanya justru memuji Nabi Musa. Bahkan doanya justru berbalik menimpa dirinya dan kaumnya. Meskipun ia berusaha mengubah doa tersebut, ia tidak bisa melakukannya.
Karena gagal dengan cara tersebut, Bal’am pun memilih jalan licik. Ia tahu bahwa Allah Swt. sangat membenci perbuatan dosa, dan ia menyadari bahwa Bani Israil akan mendapat murka-Nya jika terjerumus dalam kemaksiatan. Dengan itu, ia merencanakan strategi jahat untuk menggiring mereka ke dalam perzinaan.
Ia meminta kaumnya mengirim seorang wanita cantik yang telah dirias agar tampil memikat. Untuk menutupi niatnya, wanita itu dikirim dengan dalih berdagang. Rencana itu berhasil. Seorang tokoh Bani Israil bernama Zamra bin Syalum terpikat dan tergoda. Ia melanggar larangan Nabi Musa a.s. dan jatuh ke dalam perangkap dosa yang telah dirancang Bal’am. Akibat perbuatan tersebut, Allah menurunkan azab kepada Bani Israil. Mengenai hal ini, Nabi Muhammad Saw. telah memberikan petunjuk:
لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُواهُم وَقُولُوا:آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا
Artinya: “Janganlah kalian mempercayai ahli kitab dan jangan pula kalian dustakan, tetapi katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kami.’” (HR. Bukhari)
Kisah ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada banyaknya ilmu yang dimiliki, melainkan pada sejauh mana ilmu itu membentuk akhlak, menjaga lisan, dan membimbing hati untuk tetap teguh di atas jalan yang lurus. Ilmu yang tidak dibarengi dengan integritas batin, justru bisa menjadi sebab kehancuran diri.
Wallahu a’lam bisshowab. [ V.5 ]
